Moonscars: Soulslike 2D Kelam dengan Pertarungan Brutal

Dunia Itheris yang Sunyi dan Penuh Misteri

Moonscars membawa pemain ke dunia Itheris, sebuah tempat gelap yang hancur dan terasa hampir tidak bernyawa. Narasi disampaikan secara samar melalui dialog singkat, simbol, dan lingkungan sekitar. Game ini tidak memberi konteks jelas sejak awal, melainkan membiarkan pemain menafsirkan sendiri makna dunia dan keberadaan karakter utama, Grey Irma. Pendekatan ini menciptakan rasa isolasi yang kuat. Setiap area terasa asing dan berbahaya, seolah dunia itu sendiri menolak kehadiran pemain. Tidak ada rasa heroik atau harapan besar—hanya perjalanan sunyi yang dipenuhi pertanyaan. Atmosfer inilah yang menjadi fondasi emosional Moonscars dan membedakannya dari metroidvania gelap lain.

Gameplay Soulslike yang Menghukum Kesalahan

Sebagai soulslike 2D, Moonscars menuntut pemain bermain dengan sangat hati-hati. Setiap serangan, dodge, dan parry harus diperhitungkan karena stamina menjadi sumber daya krusial. Kesalahan kecil bisa langsung berujung kematian. Checkpoint berfungsi sebagai tempat upgrade sekaligus risiko, karena musuh akan respawn setiap kali pemain beristirahat. Sistem ini menciptakan ketegangan konstan dalam eksplorasi. Game tidak memberi banyak ampunan, terutama di awal. Namun bagi pemain yang mau belajar pola musuh dan menguasai timing, progres terasa memuaskan. Moonscars jelas dirancang untuk pemain yang menikmati tantangan berbasis skill, bukan power fantasy.

Sistem Combat Berat dan Berisiko Tinggi

Pertarungan di Moonscars terasa berat, lambat, dan penuh komitmen. Setiap ayunan pedang memiliki konsekuensi, dan pemain RAJA 99 tidak bisa membatalkan animasi secara sembarangan. Sistem parry menjadi elemen penting, terutama saat melawan musuh kuat dan boss. Selain stamina, game juga menggunakan sistem health recovery berbasis risiko, memaksa pemain mengambil keputusan agresif di tengah pertarungan. Hal ini menciptakan dinamika menarik antara bertahan dan menyerang. Boss fight didesain untuk menguji kesabaran dan konsistensi, bukan refleks semata. Kemenangan terasa pantas karena diperoleh lewat pemahaman mekanik, bukan keberuntungan.

Visual Monokrom dan Atmosfer yang Menekan

Moonscars menggunakan gaya visual 2D dengan palet warna gelap dan kontras tinggi. Dunia didominasi hitam, abu-abu, dan merah, memperkuat nuansa suram dan keputusasaan. Desain karakter dan musuh terasa grotesk namun artistik. Animasi sederhana tapi efektif dalam menyampaikan beratnya pertarungan. Sound design minimalis, dengan musik yang jarang muncul namun kuat saat digunakan. Kesunyian sering kali menjadi bagian dari atmosfer. Kombinasi visual dan audio ini menciptakan pengalaman yang menekan secara emosional, membuat pemain selalu merasa tidak aman. Moonscars bukan game yang ingin terlihat indah—ia ingin terasa tidak nyaman.

Pengalaman yang Ditujukan untuk Pemain Sabar

Moonscars bukan game untuk pemain yang mencari hiburan ringan atau eksplorasi santai. Kurva belajarnya cukup curam, dan banyak sistem tidak dijelaskan secara eksplisit. Pemain dituntut sabar, mau gagal, dan belajar dari kesalahan. Namun bagi penggemar soulslike 2D, game ini menawarkan pengalaman yang solid dan konsisten. Tidak ada kompromi besar dalam desainnya. Moonscars tahu betul audiensnya dan tidak mencoba menyenangkan semua orang. Bagi mereka yang menikmati dunia gelap, cerita simbolis, dan pertarungan berisiko tinggi, game ini bisa menjadi pengalaman yang berkesan.